Anda Bertanya, Habib Novel Menjawab
Anda Bertanya, Habib Novel Menjawab
Dalam menyelesaikan masalah apapun lakukan beberapa tahapan ini:
1. Menyadari sepenuh hati bahwa Allah lah yang mengijinkan masalah itu terjadi dan hanya Allah lah yang bisa menyelesaikan dan mengangkat masalah itu dari kita.
2. Setiap saat meletakkan kesadaran dalam hati bahwa kita memang benar-benar tidak memiliki apa apa, tidak memiliki kekuatan dan kemampuan apapun, hanya Allah lah yang Maha Memiliki dan Maha Kuasa.
3. Tidak bersandar kepada (mengandalkan) apapun dan siapapun, walau secara lahiriah ada teman, kemampuan finansial atau apapun yang bisa membantu. Putuskan hubungan hati dari semua itu, jadikan hati hanya mengandalkan Allah Ta'ala.
4. Bertobat dan minta ampun kepada Allah atas semua dosa dan kesalahan kita.
5. Meminta pertolongan Allah dengan amal saleh sesuai masalah. Jika masalahnya keuangan, berderma kepada orang yang serupa masalahnya. Jika masalahnya kesedeihan, dengan menghibur hati saudara yang sedang sedih.
6. Minta didoakan orang lain, terutama doa orang tua.
7. Mengamalkan amalan tertentu, seperti sholat istikharah, shalat hajat, doa dan dzikir tertentu dengan istiqomah.
8. Musyawarah dengan orang saleh yang berilmu.
Insya Allah hati akan menjadi tenang, bercahaya, dan siap menerima "PETUNJUK" dari Allah untuk mensolusikan masalah tersebut. Karena SOLUSI datangnya HANYA DARI ALLAH.
Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad radhiyallahu 'anhu dalam kitab An-Nafâisul ‘Ulûwiyyah hal 24-26 berkata:
Adapun mengenai al-khauf (rasa takut kepada Allah) dan ar-rojâ` (rasa harapan kepada Allah), maka ketahuilah bahwa al-khauf lebih utama bagi seseorang yang nafsunya sangat cenderung untuk berbuat maksiat, hal ini berlaku sampai ia dapat mengendalikan nafsunya. Dan ar-rojâ` lebih utama bagi seseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut (sekarat), sehingga ia dapat meninggal dunia dalam keadaan berbaik-sangka (husnudhon) kepada Allâh. Sedangkan bagi orang yang sehat dan taat beragama, maka lebih utama jika ia dapat menyeimbangkan antara al-khauf dan ar-rojâ`: menjadikan kedua-nya seakan sepasang sayap burung.
Haibib ‘Abdullâh bin ‘Alwî Al-Haddâd ra berkata:
Rasûlullâh shallallahu 'alaihi wasallam tidak membaca surat khusus dalam shalat tahajjudnya. Sebaiknya engkau membaca Al-Qurân sedikit demi sedikit hingga khatam dalam sebulan, kurang dari itu atau lebih dari satu bulan.
Benar, kita memang disunahkan untuk berpindah tempat jika akan mengerjakan shalat lagi, baik itu shalat sunah atau pun shalat wajib. Alasannya adalah agar semakin banyak tempat di bumi ini yang menjadi saksi shalat kita.
Habib ‘Abdullâh bin ‘Alwî Al-Haddâd radhiyallahu 'anhu berkata:
Jika seseorang memujimu sedangkan hatimu tidak menyukai pujian dan pujian itu memang ada pada dirimu, maka bacalah doa berikut:
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَظْهَرَ الْجَمِيْلَ وَسَتَرَ الْقَبِيْحَ
“Segala puji bagi Allâh yang telah menampakkan yang baik dan menutupi yang buruk.”
Dan jika dia memujimu dengan sesuatu yang tidak kau miliki, maka bacalah:
أَللّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ، وَاغْفِرْ لِيْ مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ، وَاجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ
“Ya Allâh, jangan Engkau tuntut aku karena ucapan mereka, dan ampuni aku atas apa yang tidak mereka ketahui dan jadikanlah aku lebih baik dari sangkaan mereka.
Menjawab pertanyaan kenapa doa sebagai senjata orang beriman sering baru dipakai pas lagi kepepet, alasannya sangat sederhana:
Merasa bisa sendiri (Ego): Awalnya kita sering sok jago, mikir bisa menyelesaikan masalah pakai tenaga dan pikiran sendiri. Pas jalan udah mentok dan kita nyerah, baru deh sadar butuh bantuan Tuhan. Lupa kalau sejak awal makhluk itu tidak bisa apa-apa, tidak punya kekuatan dan kuasa.
Lupa pas lagi enak: Waktu hidup lagi mulus dan gampang, kita sering lupa berdoa karena merasa nggak butuh apa-apa. Begitu kena musibah dadakan, baru buru-buru ingat Tuhan.
Doa dianggap "ban serep": Banyak yang menganggap doa itu cuma buat kondisi darurat pas lagi krisis. Padahal, doa itu harusnya kayak "setir mobil" yang selalu dipakai setiap hari buat mengarahkan hidup kita.
Secara umum umat Islam disunahkan untuk berjabat tangan setiap kali bertemu, dengan syarat sesama pria, sesama wanita atau dengan ma¬hram-nya.
Rasûlullâh shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا
“Jika dua Muslim bertemu dan berjabat tangan, maka keduanya diampuni sebelum berpisah.” (HR Tirmidzî dan Ibnu Mâjah)
Adapun mengenai berjabat tangan selepas shalat Subuh dan Ashar, Sayid ‘Abdurrahmân bin Muhammad Al-Masyhûr mengatakan bahwa Ibn ‘Abdus Salâm menyebutnya sebagai bid’ah mubâh. Sedangkan Imam Nawawî menganggapnya sebagai suatu perbuatan yang baik. Jika sebelum shalat dia telah berjabat tangan dengan makmum lain, maka selepas shalat dia boleh (mubâh) berjabat tangan lagi. Dan jika sebelum shalat dia tidak berjabat tangan dengan makmum lainnya, maka setelah shalat dia dianjurkan untuk berjabat tangan. Sebab, secara ijma’ seorang Muslim disunahkan untuk berjabat tangan dengan Muslim lainnya saat bertemu dengannya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa orang yang shalat itu seperti orang yang sedang bepergian, maka secara mutlak selepas shalat lima waktu dia dianjurkan untuk berjabat tangan dengan makmum lainnya.
Sayid ‘Abdurrahmân bin Muhammad Al-Masyhûr berkata:
Mengangkat tangan ketika berdoa di luar shalat menurut pendapat yang kuat adalah sunah, sebagaimana disebutkan oleh Suyûthî di dalam Risâlah-nya. Beliau menyebutkan lebih dari 20 sahabat dan sekitar 40 Hadis yang menjelaskan hal ini. Selepas berdoa kita juga disunahkan untuk mengusapkan kedua tangan tersebut ke wajah. Diriwayatkan bahwa ‘Abdullâh bin ‘Umar berkata, ‘Setiap kali mengangkat ke dua tangannya ketika berdoa, Rasûlullâh saw tidak pernah menariknya kembali sebelum mengusapkannya ke wajah beliau.’ (Diriwayatkan oleh Thabrânî)
Ziarah adalah kunjungan, seperti layaknya mengunjungi seseorang saat hidup kita menghadapkan diri kepadanya, tidak membelakanginya, maka setelah wafat, saat ziarah kita juga diajarkan untuk melakukan yang sama, menghadapkan wajah kita ke arah mayat dan paling bagus tepat di arah wajahnya. Sayid Thâhâ bin ‘Umar Ash-Shôfî Assaqqâf berkata:
Dalam kitab Al-Adzkâr karya Imam Nawâwî dan syarh sahih Muslim kita dianjurkan untuk membelakangi kiblat (menghadap ke wajah mayit) ketika berziarah.
Sayid Thâhâ bin ‘Umar Ash-Shôfî Assaqqâf berkata:
Shof kedua dimulai seperti kita memulai shof pertama, yaitu tepat di belakang imam. Sebab, kita dianjurkan untuk dekat dengan imam agar dapat mendengarkan bacaannya serta melihat gerakannya.